Media alternatif short video dalam menyebarluaskan hasil riset
Di era ketika perhatian orang hanya bertahan hitungan detik, mungkinkah justru video pendek menjadi kendaraan paling efektif untuk membuat riset hidup, viral, dan berdampak?
Perubahan lanskap komunikasi digital menawarkan kemungkinan baru. Platform berbasis short video seperti TikTok, Instagram melalui fitur Reels, serta YouTube melalui Shorts, telah mengubah cara orang mengonsumsi informasi. Video berdurasi singkat yang hanya butuh 30 hingga 90 detik mampu menjangkau jutaan pengguna dalam waktu yang sangat cepat. Di tengah budaya digital yang serba ringkas dan visual, format ini bisa menjadi alternatif medium komunikasi yang sangat efektif. Tentu, dalam konteks ini peyebaran ilmu pengetahuan. Short video bukan untuk menggantikan publikasi ilmiah yang bersifat akademik dan metodologis, melainkan untuk menerjemahkan temuan penelitian menjadi pesan yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Sebuah penelitian tentang kemiskinan misalnya, dapat diringkas menjadi narasi visual yang dapat dipahami dan punya relevansinya bagi kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan storytelling yang kuat, riset tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan publik.
Format ini juga memaksa para kurator riset untuk menyederhanakan ide tanpa menghilangkan makna. Ketika sebuah penelitian harus dijelaskan dalam waktu kurang dari satu menit, maka yang dituntut adalah agar menemukan inti gagasan yang paling penting. Proses ini, pada satu sisi, merupakan latihan intelektual yang menantang; pada sisi lain, bisa membuka peluang agar ilmu pengetahuan dapat dipahami oleh audiens yang lebih luas. Praktik ini mungkin saat ini sudah berkembang melalui apa yang dikenal sebagai science communication atau komunikasi sains. Dimana para konten kreator mulai memanfaatkan short video untuk menjelaskan sebuah hasil riset kepada publik. Namun pertanyaannya apakah hal tersebut dapat menjadi penilaian dari kinerja seorang akademisi dan peneliti yang sudah melakukan riset?
Tentu saja, penggunaan short video sebagai media penyebaran riset bukan tanpa tantangan. Risiko penyederhanaan berlebihan selalu ada. Penelitian yang kompleks dapat kehilangan kedalaman ketika diringkas secara ekstrem. Karena itu, short video sebaiknya dipahami sebagai pintu masuk pengetahuan, bukan sebagai pengganti penjelasan akademik yang lebih lengkap. Ia berfungsi untuk memancing rasa ingin tahu publik, yang kemudian dapat diarahkan pada sumber pengetahuan yang lebih mendalam. Di tengah perubahan budaya komunikasi digital, dunia riset akademik perlu mulai mempertimbangkan cara-cara baru untuk berbicara kepada publik. Short video adalah salah satunya: ringkas, visual, dan memiliki daya jangkau yang luas. Riset tidak hanya tentang menemukan pengetahuan baru, tetapi juga tentang membagikannya kepada masyarakat. Pengetahuan yang berhenti di ruang akademik hanya akan menjadi arsip intelektual. Namun, ketika ia diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih terbuka